Mitos Seputar Pernikahan

0
230
views
Adik melangkahi kakaknya
Adik melangkahi kakaknya

Nggak bisa dipungkiri bahwa Indonesia adalah negara berkembang yang masih memegang nilai-nilai dan tradisi adat. Oleh karena itu, seringkali kita orang-orang Indonesia masih memegang teguh mitos-mitos dan kepercayaan lama yang mungkin sebenarnya tidaklah selalu benar. Terutama terkait dengan pernikahan, banyak banget mitos-mitos yang kalau dipercaya justru bikin hidup kita salah kaprah. Ini nih beberapa mitos tentang pernikahan di Indonesia yang perlu kamu ketahui agar lebih paham mencari kebenarannya.

1. Orang Sunda Pamali Menikah dengan Orang Jawa

Jawa Sunda Cocok Aja
Jawa Sunda Cocok Aja

Ketika orang Sunda menikah dengan orang Jawa, pernikahan mereka akan disertai dengan kesialan. Padahal, banyak juga kok pasangan Sunda – Jawa yang langgeng hingga hari tua. Saat ini mitos itu sudsah memudar dan hanya sebagian kecil yang masih mempercayainya.

Awal mula mitos ini sebenarnya berdasarkan cerita sejarah kerajaan Majapahit dan kerajaan Sunda. Raja Hayam Wuruk dari Jawa berencana ingin menikahi putri sunda, Dyah Pitaloka. Namun karena suatu hal, kedua belah pihak justru berakhir pada peperangan yang memgakibatkan kekalahan pada pihak Sunda. Dengan adanya kejadian itu Putri Dyah Pitaloka terguncang dan bunuh diri.

2. Anak Sulung Menikah dengan Anak Sulung

Sepasang Anak Sulung Bahagia
Sepasang Anak Sulung Bahagia

Dalam budaya Jawa, anak sulung dilarang menikah dengan sesama anak sulung. Katanya, pernikahan kedua anak sulung akan berakhir pada nista dan nestapa, duh! Memang sih, kalau dipikir secara logis, alasan tersebut cukup masuk akal, karena anak sulung biasanya cenderung mandiri dan suka mengatur, kepribadian yang tak akan cocok jika dipadukan dengan yang sama. Tapi, tak semua anak sulung memiliki kepribadian seperti itu, kan? Banyak kok sesama anak sulung yang pernikahannya langgeng hingga tua. Kegagalan rumah tangga mah bukan perihal urutan lahir, guys! 

3. Orang Jawa dilarang Menikah di Bulan Suro

Pernikahan di bulan suro
Pernikahan di bulan suro

Jadi, selain larangan menikahkan anak sulung dengan anak sulung, orang Jawa juga dilarang menikah pada bulan Suro. Katanya sih, menikah di bulan Suro dapat mendatangkan musibah bagi kedua pengantin. Sebenarnya sich semua bulan dan hari itu sama baiknya kok. Jadi kalian nggak perlu khawatir untuk  masalah kapan nikahnya.

Awal mula mitos ini sebenarnya untuk menghormati keluarga kraton. Karena pada zaman dulu keluarga kratonlah yang sering memiliki hajat di bulan suro. Untuk para warganya biasa berbondong-bodong ke kraton untuk membatu terselengaranya hajat itu.

4. Pingitan

Tradisi pingitan di luar negri
Tradisi pingitan di luar negri

Kedua calon mempelai di larang bertemu sebelum acara pernikahan. Katanya kesialan akan datang kalau kedua calon bertemu sebelum hari H. Padahal, tradisi pernikahan yang satu ini nggak seharusnya dijadikan mitos yang mistis. Sebenarnya ada kok alasan yang masuk akal kenapa calon mempelai tidak boleh bertemu. Dengan dipingit, mempelai wanita memiliki kesempatan untuk mempercantik dirinya. Pengantin prianya pun dapat merasakan perasaan “wah” di hari pernikahannya setelah lama tak berjumpa.

5. Adik “Melangkahi” Kakaknya

Adik melangkahi kakaknya
Adik melangkahi kakaknya

Menurut mitos yang beredar jika si adik melangkahi sang kakak, maka sang kakak akan seret jodohnya. Tetapi alasan logis yang sebenarnya adalah lebih kepada perihal menjaga perasaan si kakak. Toh, dalam Islam sebenarnya kita tidak boleh menunda-nunda pernikahan ketika kita sudah menemukan jodoh kita. Jadi, nggak perlu lah percaya akan mitos-mitos seperti ini, kecuali kamu memang punya kakak yang gampang sakit hati dan sirik. Duh!

6. Kembar Beda Kelamin Wajib Dinikahkan

Adat bali
Adat bali

Dalam budaya Bali, ada tradisi yang namanya Kembar Buncing, dimana anak yang terlahir kembar dan beda kelamin pada dasarnya adalah jodoh. Oleh karena itu, anak kembar tidak identik wajib dinikahkan dengan satu sama lain. Masalahnya, di jaman sekarang hal tersebut dianggap sebagai incest, suatu hubungan yang tak normal dan dapat menimbulkan keturunan yang cacat. Nggak mungkin kan mereka adalah jodoh jika anak mereka akan selalu berakhir cacat?

Dari beberapa mitos di atas kita sudah menbahas kebenaran dan pemikiran secara logis. Beberapa mitos bisa kita percayai bukan dari hal mistisnya, tetapi dari pemikiran secara logis. Kita juga harus menghormati orang yang mempercayai mitos-mitos itu. Sebagai orang yang juga memiliki kepercayaan lainnya kita sebaiknya mengerti dan memahami apa yang perlu kita hormati dari kepercayaan orang lain. Semoga mitos di atas dapat memberi tambahan wawasan untuk saling menghormati.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here