6 Fakta yang Perlu Kita Pahami Tentang Menikah Muda

0
115
views
6 Fakta yang Perlu Kita ketahui tentang Menikah Muda
6 Fakta yang Perlu Kita ketahui tentang Menikah Muda

Bagi kita yang hidup di perkotaan dengan segudang kesibukan, sudah dianggap wajar bila kita memutuskan untuk menunda pernikahan. Ada yang ingin fokus pada karier dulu, melanjutkan sekolah atau mengembangkan bisnis. Namun ketika kenyataan di mana usia 27-30 tahun sudah lumrah bagi wanita perkotaan untuk menikah, ternyata masih ada fakta bahwa perkotaan belum terlepas dari fenomena pernikahan muda, bahkan pernikahan anak (di bawah 18 tahun),yang biasanya terjadi di pedesaan.

Bicara tentang menikah muda, sudah sering kita dengar dari orang sekitar kita bahwa menikah di usia muda itu banyak manfaatnya, salah satunya seperti bisa melihat cucu karena usia kita nggak terlalu tua nantinya. Ada juga yang nggak bisa mengelak untuk menikah muda karena dorongan orangtua yang ‘kebelet’ menimang cucu dan takut merasa durhaka ketika menolak permintaan tersebut. Inilah beberapa poin penting buat kamu yang ingin menikah muda.

1. Menikah Terlihat Gampang

Masih ingat kan gimana indahnya pernikahan Raisa dan Hamish? Lalu gimana dengan bulan madu mereka, apakah cukup bikin kamu iri? Yes, media sosial bisa membuat kita mudah terpana sekaligus berharap semua keindahan itu bisa terjadi dalam hidup kita. Jujur saja, karena sudah sering melihat gimana indahnya menikah, nggak sedikit wanita yang merasa sudah lelah dengan kesehariannya dan spontan bilang, “Nikah aja deh, enak, capek kerja terus.” Apakah selama ini ketika kita mendengar kata menikah, kita cenderung membayangkan pestanya atau kesempatan untuk selalu berdua dengan pasangan ketimbang semua tanggung jawab dan tantangan yang bakal dihadapi? Menikah itu indah, tapi nggak seindah yang selama ini dibayangkan.

2. Emosi yang Belum Stabil

Kata orang, usia nggak bisa mengukur kedewasaan seseorang. Sebenarnya kedewasaan seseorang juga ditentukan oleh pengalaman. Misalkan ada pasangan yang menikah di usia 18 tahun, di mana mereka menikah dan langsung memiliki keturunan. Apakah mereka sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah dan mengasuh anak? Apakah mereka bisa mengontrol emosi mereka? Bahkan, nggak sedikit dari mereka yang meminta bantuan orang tua untuk menyelesaikan masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka. Selain memicu perceraian, depresi, KDRT hingga bunuh diri, menikah muda faktanya juga merugikan negara, di mana wanita yang seharusnya masih bisa produktif di masa mudanya justru berada di rumah menjadi ibu rumah tangga.

3. Paksaan dari Keluarga

Mungkin diantara kita ada yang sudah diberi kode oleh orangtua. Yang masih single disuruh cari pacar (bahkan dijodohkan),yang masih pacaran disuruh menikah, dan yang baru menikah disuruh punya anak. Biasanya, alasan terbesar orangtua menyuruh anaknya segera menikah adalah ingin melihat cucu. Dari sudut pandang orangtua, kita bisa memaklumi karena usia nggak ada yang tahu dan mumpung umur masih ada, mereka ingin melihat keturunan kita. Namun tindakan orangtua yang memaksa anaknya untuk menikah muda adalah tindakan yang egois. Ketika kita menikah muda dan punya anak, kitalah yang punya tanggung jawab besar terhadap anak itu selamanya, bukan orangtua. Selain itu, ada juga juga orangtua yang menikahkan anaknya dengan anggapan beban hidupnya akan berkurang, padahal belum tentu demikian. Menolak untuk nggak menikah muda pun juga nggak bikin kita jadi anak durhaka karena kita juga punya hak atas hidup kita sendiri.

4. Resiko Terhadap Kesehatan Wanita

Isu kanker serviks sempat viral beberapa bulan lalu ketika penyanyi dangdut Julia Perez meninggal dunia. Penyakit yang sudah lama ada ini memang disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya yaitu menikah muda. Ketika seorang wanita hamil di usia muda di mana rahimnya belum kuat, maka dia akan berpotensi mengalami kanker serviks. Bahkan dalam pernikahan anak, ada kasus di mana sang bayi nggak bisa dilahirkan karena fisik sang ibu belum mampu dan hal tersebut tentu mengancam keselamatan ibu dan bayinya. Selain itu, bicara tentang pernikahan muda dan risikonya terhadap kesehatan, pihak wanita lah yang paling merasakan kerugiannya.

5. Harus Terima Kekurangan Pasangan

Menurut pendiri komunitas Cewe Quat, Bunga Mega, pernikahan itu layaknya masa yang perlu kita bayar dan harganya mahal. Maksudnya, jika kamu nggak memahami pola pikir pasangan dan nggak punya rencana setelah menikah, maka setelah menikah kamu dan pasangan akan kebingungan sendiri. Penting banget bagi kalian untuk berdiskusi tentang kapan punya anak, berapa jumlahnya, apakah harus punya rekening bersama atau nggak, apakah kamu masih bisa bekerja atau nggak, dan sebagainya. Nggak hanya itu, Ajeng Raviando sebagai psikolog juga menambahkan, “Nikahilah pasangan karena kekurangannya. Jangan menikah dengan alasan karena dia baik. Semua kebaikan itu hanyalah bonus karena di masa depan kita akan berhadapan dengan kekurangannya setiap hari, bukan kelebihannya.”

6. Cara Menyampaikan Kepada Teman

Ketika ada orang yang lebih tua memberikan nasihat tentang bahaya menikah muda, tentu anak yang lebih muda hanya asal mendengarkan, bahkan merasa digurui. Namun ada cara yang lebih efektif adalah dengan menyampaikannya dengan santai layaknya seorang teman oleh kamu, teman sebayanya. Misal, “Nggak menikah muda itu keren karena kita masih bisa melakukan banyak hal tanpa terikat, masih bisa mencari pasangan yang terbaik atau masih bisa menggapai impian.” Kita juga bisa menjadikan seleb muda yang masih belum menikah namun berprestasi seperti Cinta Laura atau Chelsea Islan sebagai role model.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here